Friday, 16 May 2014

ARTI AIR



air mata itu seperti teriakan
mengalir seperti darah
dan berjalan karena sakit
kamu tidak pernah sadar air itu akan datang
bahkan disaat lukamu mulai terbuka
kamu pun tidak akan sadar
wajahmu mulai memerah
dan kepalamu mulai terkoyak
perintah dari otakmu
sedikit demi sedikit membuatmu seperti boneka
ya, seperti diluar kendali
matamu seperti berbicara
dan mulutmu seperti singa yang mengaung
dan wajahmu seperti orang ketakutan
kamu tahu jika kamu benar
kamu pun tahu jika itu tidak pantas kau lakukan
tapi, pisau yang terlanjur menancam pada besi
membuatmu memilih untuk mengayunkan bahumu
bahkan melayangkan duri yang tipis
lalu menjatuhkannya
Sungguh menakutkan
ternyata air yang tenang bisa menumbuhkan api

ITULAH AKU



Bergelut pada sebuah kertas kosong
dengan tinta hitam yang memudar
kata demi kata tertulis seperti irisan hati
tergores seakan terbawa mimpi
bukan aku jika tidak menelan amarahku
bukan aku jika tidak bertahan dan membisu
bukan aku jika emosi itu tidak terpendam
wajar bila angin hanya menyapaku lembut
wajar jika salju menyelimuti hatiku sampai dingin
wajar jika pelangi selalu ada dalam mataku yang kosong
karena teman dalam khayalanku hanyalah sebuah inspirasi
hanyalah sebuah imaginasi
yang membuat orang tidak mengerti siapa sebenarnya diriku
berkata dengan pisau yang tajam
pasti darah akan mengucur melewati kulit luarnya
percuma setiap kata yang pedas keluar seperti petir
tak akan ada gunanya dalam perubahan hidupku
kamu tidak akan pernah menemukan aku
bahkan kamu akan heran kenapa lubang itu bisa tertutup
Bukan, bukan karena aku orang baik
bukan, bukan karena aku orang yang bisa memaafkan
bukan, tapi karena aku pintar bersembunyi
Haruskah aku tertawa disaat aku menangis?
Haruskah aku tersenyum disaat aku marah?
Atau haruskah aku membalut lukaku dengan perban disaat aku sakit?
Itu hanya membuatku munafik
Apakah kau tahu itu?
Dan sepertinya sedikit demi sedikit matamu mulai terbuka
dan melihat es yang membeku mulai mencair
lalu mengalir sampai kelautan
Dan harusnya engkau sadar
itulah Aku




WHY SHOULD I



Standing on a pedestal
prop on a mirror
view your shadow face
direction of the wind that blows
never visible on one point
that hope like die and dust
only pensive in the chair
and enjoy with posisition which uncomvortable
always ask yourself
and no slightly anwer
where they go?
where are the eyes that see me?
and where all that attantion?
like a shout which there in cranium
feel sick even stab and injure
why should I silent ?
why should I injured?
why should I were forgiving ?
and why should I which can collect one self ?
is it always like this?
people are not wrong to be wrong
people are not know to be know
or people are clean to be dust
if this world spinning perfectly
Strong are you to be me?