Bergelut
pada sebuah kertas kosong
dengan
tinta hitam yang memudar
kata
demi kata tertulis seperti irisan hati
tergores
seakan terbawa mimpi
bukan
aku jika tidak menelan amarahku
bukan
aku jika tidak bertahan dan membisu
bukan
aku jika emosi itu tidak terpendam
wajar
bila angin hanya menyapaku lembut
wajar
jika salju menyelimuti hatiku sampai dingin
wajar
jika pelangi selalu ada dalam mataku yang kosong
karena
teman dalam khayalanku hanyalah sebuah inspirasi
hanyalah
sebuah imaginasi
yang
membuat orang tidak mengerti siapa sebenarnya diriku
berkata
dengan pisau yang tajam
pasti
darah akan mengucur melewati kulit luarnya
percuma
setiap kata yang pedas keluar seperti petir
tak
akan ada gunanya dalam perubahan hidupku
kamu
tidak akan pernah menemukan aku
bahkan
kamu akan heran kenapa lubang itu bisa tertutup
Bukan,
bukan karena aku orang baik
bukan,
bukan karena aku orang yang bisa memaafkan
bukan,
tapi karena aku pintar bersembunyi
Haruskah
aku tertawa disaat aku menangis?
Haruskah
aku tersenyum disaat aku marah?
Atau
haruskah aku membalut lukaku dengan perban disaat aku sakit?
Itu
hanya membuatku munafik
Apakah
kau tahu itu?
Dan
sepertinya sedikit demi sedikit matamu mulai terbuka
dan
melihat es yang membeku mulai mencair
lalu
mengalir sampai kelautan
Dan
harusnya engkau sadar
itulah
Aku
No comments:
Post a Comment